PULIHSEKETIKA.COM - JAKARTA – Coba bayangkan situasi ini.
Di satu sekolah, anak pengusaha besar makan gratis.
Di sekolah sebelah, ada anak yang berangkat dengan perut kosong karena orang tuanya benar-benar kesulitan ekonomi.
Pertanyaannya sederhana:
Haruskah semuanya tetap dapat bantuan yang sama?
Nah, pertanyaan itulah yang sekarang sedang bikin publik ramai.
Aku, KARTO, jujur langsung berhenti sebentar waktu dengar kabar ini.
Karena pemerintah mulai bicara terang-terangan:
Anak dari keluarga kaya kemungkinan besar tidak lagi menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dan kabar ini bukan rumor warung kopi.
Langsung disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, usai melapor kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.
Menurut Nanik, program MBG akan mulai diarahkan supaya lebih tepat sasaran, terutama kepada masyarakat yang memang membutuhkan. Bahasa sederhananya:
Yang mampu, kemungkinan tidak lagi dapat. Yang membutuhkan, jadi prioritas.
Jadi Program MBG Mau Diubah?
Kurang lebih begitu.
Nanik menjelaskan kebijakan ini bagian dari refocusing anggaran MBG, agar dana negara bisa lebih fokus ke kelompok yang benar-benar membutuhkan bantuan gizi. Saat ditanya apakah anak dari keluarga kaya akan dicoret dari penerima manfaat, jawabannya cukup jelas:
“Yang mampu, yang kaya nanti tidak dapat lagi.”
Menariknya lagi…
Saat laporan itu disampaikan ke Presiden Prabowo, Nanik menyebut respons Presiden justru sangat positif.
Katanya?
“Senang banget.”
Tapi tenang dulu.
Kebijakan ini belum final sepenuhnya, karena pembahasan lanjutan dengan Presiden disebut masih akan dilakukan untuk menentukan mekanisme detailnya.
KARTO Bilang Gini…
Kalau aku bicara sebagai rakyat biasa…
Ini isu yang sensitif.
Di satu sisi, masuk akal.
Kalau anggaran terbatas, masa anak yang rumahnya tiga lantai dapat bantuan sama dengan anak yang uang jajannya saja kadang nggak ada?
Tapi di sisi lain…
Pertanyaan besarnya justru ada di sini:
Siapa yang menentukan seseorang itu “kaya”?
Karena Indonesia itu unik.
Ada yang terlihat mampu, ternyata lagi susah.
Ada yang terlihat sederhana, ternyata hartanya banyak.
Kalau data penerima nggak rapi…
Bisa bahaya.
Yang benar-benar butuh malah terlewat.
Yang seharusnya nggak dapat malah lolos.
Ini Bukan Sekadar Soal Makanan
Karena MBG bukan cuma program makan siang.
Ini menyangkut:
- Gizi anak sekolah
- Kesehatan ibu hamil dan menyusui
- Masa depan kualitas generasi Indonesia
Makanya, banyak pihak menilai kalau memang bantuan mau diprioritaskan, maka akurasi data penerima jadi kunci utama supaya program tidak salah sasaran.
Penutup: Adil Itu Kadang Bukan Dibagi Sama Rata
Aku percaya satu hal.
Kadang keadilan bukan berarti semua orang dapat bagian yang sama.
Tapi…
Yang paling membutuhkan mendapat perhatian lebih dulu.
Tapi pemerintah juga punya PR besar:
Jangan sampai kebijakan bagus malah bikin ribut karena data amburadul.
Karena rakyat tidak cuma ingin mendengar kalimat:
“Program tepat sasaran.”
Rakyat juga ingin melihat:
Benar nggak yang lapar akhirnya benar-benar kenyang?


0Komentar