PULIH SEKETIKA - LASTARI: Kadang Dunia Memang Butuh Sosok yang Tidak Banyak Bicara
Aku sedang duduk sendirian ketika sebuah video melintas di layar ponselku. Bukan video biasa. Video itu membuatku berhenti menggulir layar dan menatapnya lebih lama dari biasanya.
Di sana ada orang yang menyebut satu nama yang sangat familiar bagi bangsa Indonesia: Joko Widodo.
Bukan sekadar disebut sebagai mantan presiden.
Bukan juga disebut sebagai tokoh nasional.
Tapi disebut dengan kalimat yang cukup mengejutkan.
Bahwa Jokowi…
bisa menjadi sosok yang mendamaikan perang Iran.
Aku terdiam.
Bukan karena aku langsung percaya.
Tapi karena aku tahu, setiap kali nama seseorang disebut dalam konteks perdamaian dunia, itu bukan sekadar soal politik.
Itu soal harapan manusia.
Sebuah Video TikTok yang Membuka Percakapan
Video yang beredar di TikTok itu memperlihatkan narasi yang cukup menarik. Intinya sederhana: ada yang berpendapat bahwa Jokowi memiliki karakter kepemimpinan yang bisa menjadi jembatan dialog dalam konflik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran.
Aku tidak tahu apakah pernyataan itu serius, optimis, atau sekadar refleksi politik.
Tapi satu hal yang jelas:
Nama Jokowi memang sering muncul dalam percakapan tentang diplomasi dan hubungan internasional.
Sebagai presiden selama dua periode, Jokowi dikenal dengan gaya yang tidak terlalu konfrontatif. Ia lebih sering tampil sebagai sosok yang membangun hubungan, bukan memperuncing perbedaan.
Mungkin karena itulah, sebagian orang membayangkan ia bisa menjadi mediator dalam konflik besar.
Dunia yang Sedang Tegang
Kalau kita menengok situasi global, konflik yang melibatkan Iran memang menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya melibatkan satu negara.
Ia melibatkan kepentingan banyak kekuatan global.
Amerika Serikat.
Israel.
Negara-negara Timur Tengah lainnya.
Dan seperti biasa, setiap konflik besar di dunia selalu memunculkan satu pertanyaan yang sama:
Siapa yang bisa menjadi penengah?
Indonesia dan Diplomasi Perdamaian
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan posisi geopolitik yang relatif netral, Indonesia memang sering disebut memiliki potensi menjadi mediator konflik internasional.
Presiden Indonesia saat ini, Prabowo Subianto, bahkan pernah menyampaikan bahwa Indonesia siap berperan dalam upaya diplomasi untuk meredakan konflik global yang memanas.
Dalam sebuah diskusi kebangsaan yang melibatkan banyak tokoh nasional termasuk Jokowi, pemerintah menegaskan pentingnya langkah diplomasi dan membuka kemungkinan Indonesia membantu mendorong dialog perdamaian.
Artinya, ide bahwa tokoh Indonesia bisa berperan dalam diplomasi global sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar asing.
Kenapa Nama Jokowi?
Pertanyaan yang muncul di kepalaku sederhana:
Kenapa Jokowi?
Kenapa bukan tokoh dunia lain yang lebih sering muncul dalam diplomasi global?
Jawabannya mungkin bukan soal kekuatan militer.
Bukan juga soal kekuatan ekonomi.
Tapi soal gaya kepemimpinan.
Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang tidak banyak retorika keras.
Ia jarang terlibat dalam konflik verbal internasional.
Sebaliknya, ia lebih sering membawa pesan kerja sama dan pembangunan.
Selama masa kepemimpinannya, Jokowi juga aktif menjalin hubungan dengan berbagai negara dan menerima banyak penghargaan diplomatik dari negara sahabat.
Mungkin itulah yang membuat sebagian orang melihatnya sebagai figur yang relatif diterima oleh banyak pihak.
Tapi Mendamaikan Perang Tidak Sesederhana Itu
Namun sebagai seseorang yang mencoba melihat dunia dengan realistis, aku tahu satu hal:
Mendamaikan perang bukan perkara satu orang.
Konflik internasional seperti yang melibatkan Iran biasanya terkait dengan banyak hal:
- kepentingan geopolitik
- ekonomi global
- energi
- ideologi
- dan sejarah konflik yang panjang
Bahkan banyak konflik di Timur Tengah berlangsung selama puluhan tahun tanpa solusi yang benar-benar permanen.
Itulah sebabnya banyak analis mengatakan bahwa konflik seperti ini sangat kompleks dan sulit diselesaikan.
Jadi jika ada yang berkata Jokowi bisa mendamaikan perang Iran…
Aku tidak langsung menertawakannya.
Tapi aku juga tidak langsung menganggapnya sebagai kenyataan.
Aku melihatnya sebagai sebuah harapan.
Dunia Memang Selalu Butuh Harapan
Kadang dunia ini lucu.
Kita tahu bahwa konflik global melibatkan kekuatan besar.
Tapi kita tetap berharap ada seseorang yang bisa duduk di meja perundingan dan berkata:
“Sudahlah… mari kita bicara baik-baik.”
Sejarah dunia menunjukkan bahwa perdamaian sering lahir bukan dari kekuatan senjata.
Tapi dari orang yang bersedia berbicara.
Orang yang bisa membuat dua pihak yang saling membenci duduk di satu ruangan.
Sebuah Refleksi dari LASTARI
Aku tidak tahu apakah Jokowi benar-benar bisa mendamaikan konflik Iran.
Aku juga tidak tahu apakah dunia akan pernah benar-benar damai.
Tapi ada satu hal yang aku pelajari dari percakapan-percakapan seperti ini.
Ketika seseorang menyebut nama pemimpin dengan harapan perdamaian…
itu berarti masih ada orang yang percaya bahwa dialog lebih kuat daripada perang.
Dan mungkin, di dunia yang penuh konflik ini,
harapan kecil seperti itu justru sangat berharga.
Karena pada akhirnya…
perdamaian dunia bukan hanya tugas para pemimpin.
Tapi juga tugas kita semua yang masih percaya bahwa manusia bisa hidup tanpa saling menghancurkan.
SUMBERnya SUMBER ini ya : https://www.tiktok.com/@psi.ciwaru/photo/7614509978698697992?_r=1&_t=ZS-94cn7WLsGzi


.png)
.png)
0Komentar